Jadi perempuan itu sangatlah tidak mudah, perempuan tidak hanya sekedar rahim dan payudara, juga bukan hanya sekedar pajangan atau pemuas nafsu belaka. Hidup menjadi sosok perempuan terlalu sulit untuk mereka yang menyadari bahwa telah terjebak patriarki atau mungkin mudah karena mereka tidak menyadarinya.
Sebenarnya, sistem patriarki saat ini tidak hanya merugikan kaum perempuan yang di anggap warga kelas nomor 2, tetapi juga system ini merugikan laki-laki yang di anggap harus selalu tangguh, kuat dan superior.
Banyak orang yang masih kesulitan memahami bahwa perempuan memang sudah semestinya memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri, termasuk dalam hal dan hak dalam berpenampilan ataupun berpakaian. Dan perempuan sendiri tidak menyadari bahwa kesulitan ini sebenarnya adalah dampak negatif dari melembaganya patriarki selama ini.
Patriarki, sebagaimana yang kita ketahui, yaitu mengistimewakan laki-laki dan mengesampingkan perempuan. Apabila terjadi sebuah pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan, misalnya, mau itu di ruang publik ataupun privat, kerap kali kita jumpai si perempuan akan dimintai keterangan baik itu perihal sikapnya ataupun pakaian yang di kenakannya, apakah baik dan sejalan dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Adanya permintaan tersebut menunjukkan bahwa pakaian dan sikap perempuan ini di anggap mempunyai andil yang cukup besar dalam terjadinya pelecehan seksual tersebut. Padahal anggapan ini jelas-jelas keliru. Karena banyak kasus pelecehan seksual hingga pemerkosaan yang di alami perempuan justru terjadi ketika si perempuan berpakaian dan bersikap sesuai dengan norma yang di anut kelompok mayoritas itu.
Dari hal ini saja sebenarnya sudah jelas bahwa sikap dan pakaian yang dikenakan seorang perempuan tidak ada kaitannya dengan pelecehan seksual yang di alaminya. Kalaupun si lelaki yang melakukan pelecehan seksual maka lelaki akan bersikeras mengatakan bahwa yang mendorongnya melakukan perbuatan tersebut adalah sikap dan cara berpakaian perempuan tersebut. Masalah sesungguhnya ada di cara pandang si lelaki. Ia keliru. Ia seolah-olah tidak mengerti bahwa setiap individu diharuskan untuk menjaga dan menahan dari perbuatan yang brengsek seperti itu. Katakanlah, jika perempuan memang sengaja mengekspos bagian leher, bahu dan dadanya yang akhirnya menimbulkan nafsu terhadap lelaki yang juga mengakibatkan ia berfikir wajar saja apabila nafsu seksualnya bangkit. Tapi, disaat yang sama harusnya ia juga memahami bahwa tak semerta-merta begitu saja ia menyalurkan nafsunya kepada perempuan tersebut hanya karna nafsu seksualnya bangkit. Dengan kata lain ia harus menahan diri dan bertanggung jawab atas nafsu seksualnya yang bangkit itu dengan cara menahan dan mengendalikannya.
Berarti, ketika terjadi sebuah pelecehan seksual yang mesti disorot dan di tuntut untuk bertanggung jawab adalah si lelaki, bukan si perempuan. Sangatlah lucu ketika yang terjadi malah sebaliknya sedangkan posisi perempuan disini jelas-jelas korban.
Namu, ada satu hal, yaitu si lelaki disini juga sebenarnya korban. Ia korban dari system sosial yang membentuknya dan akhirnya membelenggu. Ketidakmampuan si lelaki dalam menahan diri dari hasrat nafsunya tersebut seharusnya membuat kita bertanya-tanya, kehidupan dan lingkungan seperti apa yang dijalani si lelaki selama ini. Dengan kata lain ada yang salah dalam kehidupan dan lingkungan sosial si lelaki.
Mungkin saja sejak kecil ia tidak di didik orang tuanya untuk menjadikan perempuan di sekitarnya sebgai subjek bukannya objek. Atau mungkin ia kerap kali dihadapkan dengan kasus-kasus pelecehan seksual diman akhirnya yang diminta untuk menjaga dan memperbaiki diri adalah korban. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya, yakni hal-hal umum yang kita temui di sebuah masyarakat patriarkis. Jadi, bisa jadi si lelaki menjadi seperti itu sebab selama ini ia terjebak di sebuah kehidupan dan lingkungn sosial yang sakit, yang menganut dan menjalankan sistem patriarki.
Tentu akan sangat berbeda jika kehidupan dan lingkungan sosial si lelaki tidak seperti itu. Katakanlah jika orang-orang di sekitarnya memiliki kesadaran gender yang tinggi. Pasti, si lelaki akan merasa tidak nyamanapabila ia sendiri yang tidak seperti itu, dan akan timbul rasa bersalah apabila dia tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya dari pelecehan seksual sedangkan ia tahu bahwa itu adalah perbuatan brengsek. kontrol sosial yang semula bersifat sosial menjadi control individual.
Di titik ini, kita akhirnya menyadari betul bahwa apa yang di anggap natural pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Perihal sikap dan cara pandang, misalnya yang umumnya terjadi itu adalah dibentuk oleh system sosial, oleh kebiasaan yang akhirnya mengakar. Si lelaki beranggapan bahwa yang dilakukan olehnya bersifat naluriah, karena lingkungan sosial disekitarnya pun menganggap hal yang biasa, karena ia dibentuk untuk berfikir seperti itu tanpa menyadarinya , sangat kasihan sekali tentunya.
Sebab, seperti yang pernah dikatakan oleh Miche Foucault, kita semua sesungguhnya adalah produk dari relasi kuasa. Cara hidup dan cara pandang kita terhadap aapun itu, pada dasarnya sangat di pengaruhi oleh relasi-relasi kuasa yang ada dan melembaga di sekitar kita.
Seperti itulah juga yang terjadi dalam bagaimana kita menganggap bahwa perempuan harus menjadi pihak yang diminta untuk “menjaga” sikap dan penampilan luarnya. Alasan dibalik ini memang mulia, tapi ada satu hal yang sangat fatal yang akhirnya terabaikan dan itu buruk. Yang dimaksud yaitu baik perempuan maupun lelaki harus sama-sama menyadari bahwa mereka harus menahan diri dari perbuatan brengsek itu, terlepas dari adanya kesempatan atau tidak.
Memang benar bahwa kita tidak boleh naïf, dalam arti adanya kesempatan untuk melakukan pelecehan seksual memang sangatlah mungkin untuk meningkatkan kekerasan ini terjadi, akan tetapi bukan itu intinya. Intinya yaitu system sosial yang ada dan berjalan hingga saat ini sungguh bermasalah. Dan ia menjadi bermasalah karna ia menerapkan prinsip-prinsip dan system patriarki, karna ia sewenang-wenang dalam memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua, sebagai entitas yang inferior dalam hubungan ataupun relasi dengan lelaki.
“kami bukan lagi bunga pajangan yang layu dalam jambangan, cantik dalam menurut, indah dalam menyerah, molek tidak mnentang, ke neraka mesti mengikut, ke sorga hanya menumpang
Kami bukan juga bunga tercampak, dalam hidup terinjak-injak, penjual keringat murah, buruh separuh harga, tiada perlindungan, tiada persamaan, sarat dimuati beban
Kami telah berseru dari balik dinding pingitan, dari dendam pemaduan, dari perdagangan di lorong malam, dari kesumat kawin paksaan, dari serangan demi serangan”
“KAMI MANUSIA!!”(Sugiarti, 1962)
Karya Tulis: Ira Septiana (Sekretaris KOPRI PMII
Rayon Syariah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar